Saat ini KPR (Kredit Pemilikan Rumah) sudah menjadi pilihan banyak orang yang ingin memiliki rumah tanpa harus membayar secara tunai yang nilainya sangat besar. Pengembang juga sering menjadikan nilai cicilan KPR sebagai acuan dalam promosi agar konsumen tertarik. Namun dari kemudahan dan jumlah cicilan yang terlihat murah itu, ada suku bunga KPR yang biasanya luput dipertimbangkan saat akan memutuskan jumlah dan tenor cicilan yang akan ditentukan.
Bunga KPR biasanya dibebankan sebagai biaya tambahan oleh bank selaku debitur. Kenyataannya jumlah bunga ini ikut menentukan total nilai cicilan yang harus dibayarkan setiap bulan selama masa kredit. Hal ini yang kadang mengecoh pembeli atau kreditur yang merasa bahwa nilai keseluruhan menjadi sangat mahal. Untuk itu, sebagai pembeli Anda harus mengetahui tentang macam-macam bunga KPR, mekanisme serta kelebihan dan kekurangannya untuk menyesuaikan kemampuan finansial dan meminimalisir risiko di masa depan.
Jenis bunga ini adalah metode kredit dengan suku bunga yang tidak berubah dalam waktu tertentu yang biasanya berlaku untuk 1 sampai 5 tahun dari awal kredit diajukan tergantung kebijakan tiap bank. Setelah berakhir, bunga akan mengikuti sesuai suku bunga pasar atau menjadi bunga floating.
Jika memilih menggunakan bunga ini, artinya suku bunga pinjaman dapat naik atau turun sesuai dengan kondisi pasar atau suku bunga acuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Kekurangan dari bunga ini adalah cicilan menjadi berubah-ubah dan tidak stabil.
Bunga ini merupakan gabungan dari tetap dan kenaikan bertahap. Suku binga tetap diberlakukan namun dengan tingkat yang berbeda dalam kurun waktu tertentu. Misalkan bunga tetap 4% di 2 tahun pertama, kemudian naik menjadi 4 persen untuk tahun ketiga hingga tahun kelima, dan seterusnya.
Hampir sama dengan floating, namun bunga ini memiliki batasan pada nilainya. Sebagai contoh, Anda ingin melakukan KPR dengan cap 10% dalam 3 tahun. Itu artinya, meskipun suku bunga melonjak secara drastis namun tidak bisa melebihi batas (cap) 10% yang ditentukan sejak awal.
Bunga jenis ini merupakan campuran antara fixed dengan floating rate. Bank biasanya menawarkan bunga tetap pada beberapa tahun awal lalu beralih ke bunga floating hingga akhir tenor.
Bunga ini dihitung berdasarkan jumlah pokok pinjaman awal. Jumlah cicilan yang merupakan gabungan antara pokok dan dan cicilan bunga akan sama dari awal hingga akhir. Bunga ini biasanya diterapkan oleh lembaga perbankan syariah namun dengan bunga yang biasanya lebih tinggi.
Tenor atau jangka waktu pinjaman akan sangat berpengaruh terhadap besarnya cicilan yang akan dibayarkan nantinya. Semakin pendek tenor, cicilan akan lebih tinggi namun total bunga yang dibayarkan semakin rendah dan sebaliknya. Jika masih menyanggupi, pilihlah tenor terpendek agar tidak membebani keuangan Anda di kemudian hari.
Meski terlihat kecil, selisih suku bunga walau hanya 0,1% dapat menghemat jutaan rupiah jika ditotalkan. Penting bagi Anda untuk membandingkan suku bunga antar lembaga perbankan yang memfasilitasi KPR.
Pertimbangkan jenis bunga dan biaya-biaya tersembunyi seperti administrasi, provisi dan penalti jika terjadi kredit macet di kemudian hari.
Sebelum memutuskan membeli rumah, pastikan Anda memriksa portofolio developer (pengembang) untuk memastikan kualitas rumah yang dibuat dan kejelasan proyek yang sudah pernah dijalankan. Anda dapat mengecek legalitas pengembang di situs resmi SIRENG Kementrian PUPR.
Memiliki rumah di YUKARI Sawangan lebih dari sekadar tempat tinggal yang aman dan nyaman. Berkat teknologi tahan gempa dari Jepang, YUKARI Sawangan juga menjadi investasi jangka panjang dengan struktur yang tahan terhadap gempa dan cuaca Indonesia. Bekerja sama dengan beberapa bank terkemuka di Indonesia, YUKARI Sawangan memberikan kemudahan dalam memiliki hunian Anda dengan beragam metode cicilan dan bank sesuai kebutuhan finansial Anda. Jika tertarik, Anda dapat menghubungi kami di 0823-1133-4579 (WhatsApp), mengunjungi kami melalui DM Instagram atau mengunjungi web resmi YUKARI Sawangan di sini.
WhatsApp us